Deliksandi // KABUPATEN BEKASI – Pandangan tokoh muda terhadap pernyataan atau kritik tajam dari aktivis lingkungan kepada kepala daerah umumnya terbagi ke dalam beberapa sudut pandang yang menyeimbangkan antara fungsi kontrol sosial dan kebutuhan akan solusi kebijakan yang realistis, tentunya hal ini perlu diluruskan agar cara penyampaiannya bisa difahami.
Jaelani yang akrab di sapa (Jay) dirinya sebagai tokoh muda Desa Karangrahayu menekankan kepada Samanhudi Ki Jaga Kali, bahwa kritik yang disampaikan sebaiknya tetap berbasis data yang kuat agar argumen yang diarahkan kepada pemerintah daerah bersifat membangun, bukan sekadar tuduhan tanpa dasar. Kamis (20/08/2026).
Dikatakannya Jaelani dirinya mempunyai pandangan bahwa statement Samanhudi yang dikenal mempunyai julukan “Ki Jaga Kali ini” di akun Tiktok pribadinya terkesan memojokkan Kepala Daerah, yang seharusnya seorang yang dijuluki aktivis, ketika mengkritik harus dicerna dan disaring terlebih dahulu bahasanya, karena itu akan menjadi konsumsi publik.
Sehingga efek dari perkataannya akan membuat hubungan dia yang merupakan aktivis Ki Jaga Kali dan birokrat menjadi jalan buntu. Oleh karena itu, saya selaku pemuda Desa Karangrahayu menyarankan, kalau bisa Ki Jaga Kali jalin kerjasama serta berkolaborasi dan komunikasi dua arah, karena itu lebih efektif untuk mencari jalan keluar atas masalah yang dia bahas dia, tegas nya jay.
Lanjut Jay, ucapan yang disampaikan oleh Samanhudi Ki Jaga Kali, diakun Tik-Toknya, melontakarkan bahasa (CALO) kepada Kepala Daerah dalam menanggapi Audiensi Plt Bupati Bekasi dengan Kementrian (ATR/BPN), saya rasa bahasa itu sangat tidak sopan,terangnya Jay.
Harapan Jaelani, mari sama-sama kita dukung apa yang menjadi program Pemkab Bekasi, dan saya yakin Plt Bupati Bekasi dr.Asep Surya Atmaja, sedang fokus bekerja demi untuk perubahan Bekasi Bangkit Maju Sejahtera,pungkasnya jay.
(red).
